Pengakuan 5 Wanita yang Mengalami KDLP (Kekerasan Dalam Lingkup Pacaran), Perih Nggak Cuma di Tubuh
Jalinan percintaan memang memunculkan beberapa gestur dari aktornya. Ada yang merasai keceriaan, kemelut, bingung, terkadang susah, kesakitan. Semasing dari mereka sempat punyai cerita percintaan yang seseorang tidak sempat tahu, hanya karena mereka sendiri yang dapat merasakan.
Seperti roda kehidupan yang tidak sempat berjalan lancar, begitu juga masalah cerita percintaan. Beberapa cewek akui jika dianya sering memperoleh tindak kekerasan dari pasangannya. Jika dalam kerangka rumah tangga, kita biasa mengatakan KDRT (Kekerasan Di rumah Tangga). Tetapi pada ini, bolehlah kita mengatakan dengan KDLP (Kekerasan Dalam Cakupan Kekasihan).
Sayangnya, jalinan asmara yang dibarengi tindak kekerasan sering tidak nampak, sebab umumnya tidak langsung menyertakan kontak fisik. Karena itu, beberapa korban seringkali tidak mengetahuinya. Beberapa pernyataan dari beberapa korban KDLP ini mudah-mudahan dapat buka mata kita, jika jalinan yang dibarengi dengan tindak kekerasan tidak wajar untuk dipertahankan.
Helena, sebagai korban kekerasan alami trauma berkelanjutan. Diantaranya ialah berasa terintimidasi saat disentuh dengan cara fisik. Perlakuan kasar yang sering dia peroleh dari pasangannya membuat psikologisnya terusik. Dia akan simpan memory dimana badannya alami siksaan. Hingga saat disentuh dengan cara fisik, badannya akan berontak sebab terlatih terima kesakitan yang tidak mereka kehendaki.
Demikian juga saat dia tidak menyengaja lakukan kekeliruan. Sekecil apa saja kekeliruan itu, akan dipandang seperti penyebab kekerasan. Seperti yang dia alami dalam jalinan asmaranya.
Aktor kekerasan kadang tuntut pasangannya untuk bertambah mengutamakan dianya dibanding siapa saja. Tidak jarang-jarang, sang korban akan menjauh dari beberapa orang paling dekatnya termasuk juga keluarga. Ini dirasakan oleh Lulu, dia sering ada pada tempat harus pilih di antara pasangannya, teman dekat, saudara, serta keluarga. Dengan cara tidak sadar, dia dipisah dari keluarga serta beberapa orang paling dekat sebab harus memprioritaskan pasangannya. Jauhi beberapa orang paling dekat dilaksanakan untuk tutupi apakah yang dia alami sejauh ini.
Nissa cuman dapat pasrah merasakan orang yang dia sayangi sebegitu teganya menyakitinya. Korban kekerasan seperti Nissa ini termasuk juga beberapa orang yang lugas dalam jalani jalinan percintaan. Mereka sadar jika mereka disakiti dengan cara fisik tetapi mereka benar-benar tidak memikir untuk mengakhiri hubungan. Kepercayaan akan perkembangan sikap tiap orang jadi fakta untuknya untuk selalu menjaga jalinan yang tidak lagi manusiawi.
Walau sebenarnya makin cewek pasrah memperoleh perlakuan tidak membahagiakan dari pasangannya, makin berkuasalah pasangannya itu. Karena itu bila waktu kekasihan menjadi korban kekerasan serta masih bertahan sebab beberapa fakta, lama kelamaan cewek jadi tidak berkapasitas.
Mereka yang putus harapan serta tertekan condong akan mempersalahkan diri kita. Kelangsungan hubungan yang entahlah ke mana juntrungannya, dibuat penyebab untuk melakukan tindakan bodoh, dari mulai cari kekeliruan sampai menganiaya diri kita. Tidakkah ini satu bukti yang konyol? Mungkin dampak sebab sering ditoyor kepalanya oleh pasangan, sampai otak depan beralih ke belakang. Hal seperti ini benar-benar benar-benar disayangkan, kan?
Mirisnya, mereka yang telah terlatih terima perlakuan kasar dari pasangannya akan menjadi berubah orang yang kasar . Situasi yang dirasakannya ini dipandang seperti satu rutinitas yang normal. Atau dapat jadi mereka meletakkan sakit hati yang sangat benar-benar serta melampiaskannya pada seseorang.
Ini ialah bukti jika kekerasan juga dapat menyebar. Banyak langkah yang dilaksanakan korban untuk melampiaskan kekecewaannya pada situasi yang dirasakan. Termasuk menyakiti seseorang. Kekerasan yang berlangsung selama saat kekasihan sebaiknya diakui serta dijauhi sedini kemungkinan. Kekerasan yang terlalu lama terkadang malah berlangsung sebab korban tidak melakukan perbuatan apa-apa karena unsur rasa cinta. Ini salah kaprah.
Jangan membudayakan rasa malu, takut, salah atau hal-hal lain yang karakternya lemahkan diri. Penting buat cewek untuk berani menjelaskan ‘stop‘ serta ‘tidak' saat pertama-tama memperoleh perlakuan kasar dari pasangannya. Tidak cuma perkataan, dan juga aksi dengan berani wafatkannya.
